Peneliti Ciptakan AI Pintar Deteksi Cukup Tidaknya ASI untuk Bayi

kopihost.com

Inovasi Baru untuk Dukung Ibu Menyusui: Alat Pendeteksi Kecukupan ASI Berbasis AI

Menyusui adalah momen penting dalam tumbuh kembang bayi, namun tak jarang para ibu merasa cemas apakah anaknya sudah mendapatkan ASI yang cukup. Rasa khawatir ini bisa menjadi tekanan tersendiri bagi seorang Bunda, terutama saat menghadapi masa-masa awal setelah melahirkan. Untungnya, perkembangan teknologi membawa solusi inovatif yang bisa membantu meringankan kekhawatiran tersebut.

Para peneliti dari Monash University telah menciptakan sebuah perangkat berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mampu mendeteksi secara akurat jumlah ASI yang dikonsumsi oleh bayi selama menyusu. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan ketenangan pikiran kepada para orang tua dan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan sesuai rekomendasi medis.

Cara Kerja Perangkat Pintar Ini

Alat bernama Infafeed Monitor ini bekerja dengan menempelkan probe kecil pada leher bayi saat ia sedang menyusu. Probe tersebut dilengkapi dengan sensor yang mampu merekam sinyal suara saat bayi menelan ASI. Data ini kemudian diproses oleh sistem AI yang dirancang untuk menghitung volume ASI yang berhasil dikonsumsi secara real-time.

Dalam uji coba awal yang melibatkan 24 bayi baru lahir, alat ini terbukti mampu memberikan pengukuran yang sangat akurat. Hasil studi menunjukkan bahwa monitor ini bisa menjadi solusi non-invasif untuk menggantikan metode lama yang sering kali tidak praktis atau kurang tepat.

Tujuan Pengembangan dan Manfaatnya

Dr. Fae Marzbanrad, salah satu peneliti utama di balik proyek ini, mengatakan bahwa ide pengembangan alat ini muncul dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu. Ia sempat merasakan kecemasan yang sama seperti banyak ibu lainnya: apakah bayi benar-benar mendapat cukup ASI. Hal ini juga sering ditemukan di kalangan ibu menyusui di komunitas tempat ia bergabung.

“Saya ingin menciptakan solusi yang bisa membantu para ibu merasa lebih tenang dan percaya diri saat menyusui,” ujarnya. “Banyak ibu yang bahkan rela membayar untuk menggunakan alat ini begitu tersedia.”

Selain itu, Associate Professor Atul Malhotra, seorang neonatologis dari Monash University, menjelaskan bahwa alat ini sangat bermanfaat terutama untuk bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah. Mereka biasanya membutuhkan pemantauan ekstra saat beralih dari pemberian makan melalui selang ke pemberian ASI langsung.

“Teknologi ini akan sangat membantu mereka dalam menambah berat badan secara efektif, serta memberikan data objektif kepada orang tua,” tambahnya.

Potensi Aplikasi Luas

Jika hasil studi divalidasi dalam skala yang lebih besar, maka alat ini bisa digunakan tidak hanya di rumah sakit tetapi juga di rumah tangga. Ini akan menjadi bagian dari strategi dukungan menyusui yang lebih holistik, baik di lingkungan klinis maupun domestik.

Salah satu tantangan terbesar dalam menyusui adalah persepsi bahwa pasokan ASI tidak mencukupi. Padahal, banyak kasus yang sebenarnya tidak memerlukan suplementasi susu formula. Dengan adanya alat ini, para ibu bisa mendapatkan informasi yang jelas dan objektif, sehingga bisa membuat keputusan yang lebih tepat terkait pemberian makanan bayi.

Sebuah tinjauan besar yang diterbitkan di jurnal Maternal & Child Nutrition tahun 2021 menyebutkan bahwa sekitar 50 persen ibu menyusui menghentikan pemberian ASI karena merasa produksi ASI-nya tidak cukup. Angka ini menegaskan betapa pentingnya alat seperti Infafeed Monitor untuk memberikan keyakinan dan dukungan objektif kepada para ibu.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, harapan untuk meningkatkan kualitas perawatan bayi dan mendukung keberlanjutan menyusui menjadi lebih nyata. Para peneliti optimis bahwa alat ini akan segera tersedia secara komersial dan bisa dinikmati oleh banyak keluarga di masa depan.

Bagikan:

[addtoany]

Related Post

Mau bikin Website Apa?

Percayakan Kebutuhan Website Anda di sini , Anda tidak akan pernah menyesal mengenal KopiHost.

Mulai Sekarang